Wednesday, July 22, 2015

Pertanyaan Di Sudut Cafe Itu

So, what’s up with Life, or Love?

Pertanyaan itu pun hadir dari seorang teman lama yang kini telah menikah. Semasa SMA dulu kami selalu bersama. Kami bahkan menyukai seseorang yang sama. Berutungnya adalah, dia berhasil berpacaran dengan orang tersebut, and I? Just like another stories. I just keep that feeling alone. Seseorang itu bernama R.

Orang yang selama lima tahun menjadi pusat dari rotasi dunia yang saya tinggali. Lima tahun memendam perasaan dan hasrat tersebut dalam-dalam. Saya jatuh bangun dengan perasaan dan hubungan yang tidak tahu akan dibawa ke mana. Yang saya tahu, saat itu saya tidak bisa hidup tanpa dirinya. Hubungan on off itu pun harus berakhir dengan saya yang tidak dapat memiliki dia. Klasik.

Kemudian datang seseorang dari kota asing, yang menawarkan cinta dan kenyamanan. Perasaan yang dewasa, selama hampir tiga tahun kami berhasil mencintai dengan cara kami sendiri. Namanya D. Sayangnya D menikah lebih dulu dengan orang lain. Bukan dengan saya. Saya begitu patah hati.

Sejak saat itu pun saya bersumpah untuk tidak berhubungan dengan siapa pun dalam bentuk apa pun.

Tidak ada ruang untuk memuja atau pun hasrat memiliki. Karena yang terjadi hanyalah kegagalan. Karena memang memiliki dan mencintai adalah dua hal yang berbeda.

Harus ada legitimasi keyakinan bahwa masing-masing memang saling menyukai. Bukan hanya satu pihak. Atau pun hanya dorongan keinginan di kala ada desah yang terdesak dalam dada.

Yang itu…. Lain cerita.

Kembali dalam realita di mana teman saya menunggu jawaban keluar dari mulut ini.

Saya bingung, karena memang tidak ada yang menarik dari hidup saya. Jika ia bertanya tentang pekerjaan, saya akan berapi-api menjawabnya.

Tapi tentang hubungan dan perasaan? Tahu apa saya tentang hal tersebut.

Kemudian saya teringat sesuatu.

Sebenarnya ada yang ingin saya ceritakan, sesuatu yang empat bulan ini mengganggu pikiran dan keseimbangan hidup saya.

‘Sepertinya ada sih.. Tapi saya ga tahu ini apa,’ jawab saya ragu.

‘Apa?’ tanyanya makin penasaran.

‘Masih tentang kisah cinta platonik sih. Biasalah gue,’ ujar saya lemah.

Ada jeda di sana.

Kami melihat sekeliling café kecil yang dulu biasa kami buat untuk membicarakan R dari siang sampai malam. Tidak ada yang berubah, hanya semakin ramai, dan ada beberapa karyawan baru di sana.

‘Jadi.. sepertinya saya menyukai teman saya sendiri deh,’  kata-kata itu keluar begitu saja.

‘Loh, kok bisa?’

‘Ya itu, saya juga ga tahu. Tiba-tiba aja saya kok ngerasa dia cakep, ngerasa nyaman, ngerasa kalau dia dekat dengan orang lain saya kok jadi misuh-misuh sendiri. Ngomel-ngomel ga jelas. Saya takut saya sayang sama dia.’

‘Duh, bagus dong kalau sudah seperti itu,’ ucapnya antusias.

‘Ya, ga bagus dong kalo dia teman sendiri, dan mau nikah,’ ucap saya geram.

Dan jeda itu pun hadir kembali. Lebih dingin dari sebelumnya.

‘Kamu kenapa sih ga bisa nyari orang yang belum punya pasangan dan biasa-biasa aja? Yang memang akan balik mencintaimu kamu?’ ada rasa sedih tersirat dari suaranya.

‘Entahlah.. sama yang ini saya bahagia saja gitu kalau bareng-bareng dia. Belum tidur bareng sih. Tapi sesekali, saya pernah curi-curi kesempatan peluk dia kalau lagi dibonceng sama dia,’ kekeh saya jahil.

‘Dasar lacur kamu!’

Kami pun tertawa, seolah perasaan saya hanyalah main-main dan luka yang terukir karena melihat dia bahagia dengan orang lain tidaklah nyata.

            Tapi ada satu hal yang saya sembunyikan. Bahwa, kali ini, hasrat untuk memiliki itu hadir kembali. Dalam bentuk yang lebih syahdu dan romatis.

Ketakutan untuk mempunyai perasaan yang lebih dalam pun menghantui saya. Karena untuk apa? Untuk apa menghadirkan sesuatu yang tidak mungkin bisa saya punya?

Saya pun akhirnya memutuskan untuk tidak melanjutkan obrolan tentang apa yang terjadi dengan kehidupan saya, maupun kisah cinta saya yang basi. Karena pada akhirnya, tidak akan terjadi apa-apa.

Dan, seperti halnya café ini. Sesesak apa pun orang yang datang, nuansa yang ada akan tetap seperti masa lalu. Mungkin seperti itu pula perasaan ini terhadap sosok tersebut. Sesesak apa pun perasaan itu hadir, menghantui berbagai benak yang mengharapkan balasan yang bertaut, yang terjadi hanyalah ketiadaan.

Karena mencintai dan memiliki, adalah dua hal yang berbeda. Irisan yang sepertinya, takutnya tidak saya miliki.

Sunday, July 19, 2015

You Had Me at Hello!

Maybe some of you wondering why this blog named with Foodie-o-logy?

First, I like food.

Second, I believe that behind all the food that we eat, there's story left behind. Some have a good ending, and others simply just not.

Then, here I am.

Try to telling story about food that I eat or with add some perspective on it.

Maybe in some day this blog just not always about food, it might be you can find my favourite book, film, music, people, or anything that I like.

Basically I write for myself. Sometimes you will find some stories that feel very personal. So, bear with that.

Like other good blog, let the stories begin!

Rgds,

Foody-holic!