So, what’s up with
Life, or Love?
Pertanyaan itu pun hadir dari seorang teman lama yang kini
telah menikah. Semasa SMA dulu kami selalu bersama. Kami bahkan menyukai
seseorang yang sama. Berutungnya adalah, dia berhasil berpacaran dengan orang
tersebut, and I? Just like another stories. I just keep that feeling alone. Seseorang itu bernama R.
Orang yang selama lima tahun menjadi pusat dari rotasi
dunia yang saya tinggali. Lima tahun memendam perasaan dan hasrat tersebut
dalam-dalam. Saya jatuh bangun dengan perasaan dan hubungan yang tidak tahu
akan dibawa ke mana. Yang saya tahu, saat itu saya tidak bisa hidup tanpa
dirinya. Hubungan on off itu pun harus berakhir dengan saya yang tidak dapat
memiliki dia. Klasik.
Kemudian datang seseorang dari kota asing, yang menawarkan
cinta dan kenyamanan. Perasaan yang dewasa, selama hampir tiga tahun kami
berhasil mencintai dengan cara kami sendiri. Namanya D. Sayangnya D menikah lebih dulu
dengan orang lain. Bukan dengan saya. Saya begitu patah hati.
Sejak saat itu pun saya bersumpah untuk tidak berhubungan
dengan siapa pun dalam bentuk apa pun.
Tidak ada ruang untuk memuja atau pun hasrat memiliki.
Karena yang terjadi hanyalah kegagalan. Karena memang memiliki dan mencintai
adalah dua hal yang berbeda.
Harus ada legitimasi keyakinan bahwa masing-masing memang
saling menyukai. Bukan hanya satu pihak. Atau pun hanya dorongan keinginan di
kala ada desah yang terdesak dalam dada.
Yang itu…. Lain cerita.
Kembali dalam realita di mana teman saya menunggu jawaban
keluar dari mulut ini.
Saya bingung, karena memang tidak ada yang menarik dari
hidup saya. Jika ia bertanya tentang pekerjaan, saya akan berapi-api
menjawabnya.
Tapi tentang hubungan dan perasaan? Tahu apa saya tentang
hal tersebut.
Kemudian saya teringat sesuatu.
Sebenarnya ada yang ingin saya ceritakan, sesuatu yang
empat bulan ini mengganggu pikiran dan keseimbangan hidup saya.
‘Sepertinya ada sih.. Tapi saya ga tahu ini apa,’ jawab
saya ragu.
‘Apa?’ tanyanya makin penasaran.
‘Masih tentang kisah cinta platonik sih. Biasalah gue,’ ujar
saya lemah.
Ada jeda di sana.
Kami melihat sekeliling café kecil yang dulu biasa kami
buat untuk membicarakan R dari siang sampai malam. Tidak ada yang berubah,
hanya semakin ramai, dan ada beberapa karyawan baru di sana.
‘Jadi.. sepertinya saya menyukai teman saya sendiri
deh,’ kata-kata itu keluar begitu saja.
‘Loh, kok bisa?’
‘Ya itu, saya juga ga tahu. Tiba-tiba aja saya kok ngerasa
dia cakep, ngerasa nyaman, ngerasa kalau dia dekat dengan orang lain saya kok
jadi misuh-misuh sendiri. Ngomel-ngomel ga jelas. Saya takut saya sayang sama
dia.’
‘Duh, bagus dong kalau sudah seperti itu,’ ucapnya
antusias.
‘Ya, ga bagus dong kalo dia teman sendiri, dan mau nikah,’
ucap saya geram.
Dan jeda itu pun hadir kembali. Lebih dingin dari
sebelumnya.
‘Kamu kenapa sih ga bisa nyari orang yang belum punya
pasangan dan biasa-biasa aja? Yang memang akan balik mencintaimu kamu?’ ada rasa sedih tersirat dari suaranya.
‘Entahlah.. sama yang ini saya bahagia saja gitu kalau
bareng-bareng dia. Belum tidur bareng sih. Tapi sesekali, saya pernah curi-curi
kesempatan peluk dia kalau lagi dibonceng sama dia,’ kekeh saya jahil.
‘Dasar lacur kamu!’
Kami pun tertawa, seolah perasaan saya hanyalah main-main
dan luka yang terukir karena melihat dia bahagia dengan orang lain tidaklah nyata.
Tapi ada satu hal yang saya
sembunyikan. Bahwa, kali ini, hasrat untuk memiliki itu hadir kembali. Dalam
bentuk yang lebih syahdu dan romatis.
Ketakutan untuk mempunyai perasaan yang lebih dalam pun
menghantui saya. Karena untuk apa? Untuk apa menghadirkan sesuatu yang tidak
mungkin bisa saya punya?
Saya pun akhirnya memutuskan untuk tidak melanjutkan
obrolan tentang apa yang terjadi dengan kehidupan saya, maupun kisah cinta saya
yang basi. Karena pada akhirnya, tidak akan terjadi apa-apa.
Dan, seperti halnya café ini. Sesesak apa pun orang yang
datang, nuansa yang ada akan tetap seperti masa lalu. Mungkin seperti itu pula
perasaan ini terhadap sosok tersebut. Sesesak apa pun perasaan itu hadir,
menghantui berbagai benak yang mengharapkan balasan yang bertaut, yang terjadi
hanyalah ketiadaan.
Karena mencintai dan memiliki, adalah dua hal yang berbeda. Irisan yang sepertinya, takutnya tidak saya miliki.
