Wednesday, August 12, 2015

Tapol

Saya tidak menyangka bahwa saya akan merasakan sensasi ini lagi. Berada di titik ini lagi.

Momen di mana saya merasa terlalu takut, lemah, dan terikat pada sesuatu. Entah saya yang terlalu berlebihan atau memang saya ditakdirkan selalu seperti ini.

Ada kecemasan dan ketakutan yang bergumpal menjadi satu. Dan rasanya, semua menjadikan banyak hal menjadi semakin bias. Rasa sakit pun berganti menjadi sesuatu yang tak bernama.

Entah apa itu.

Pahit kini tak terasa pahit lagi, semua tertuang manjadi ketapolan yang kebas.

Bukan hanya rasa sepi sialan ini saja yag mengikis satu persatu kemampuan saya untuk percaya. Tapi luka dari perasaan ditolak dari dirinya yang meyembulkan kembali pedih yang dulu sudah tertutup, menganga lagi.

Karena ia tidak hanya menyakiti apa yang telah ada, tapi juga membangkitkan kembali goresan pahit yang telah terbenam di masa lalu.

Saat di mana semua orang menjadikan saya hanya sebagai sampah dan jokes murahan semata.

Semua orang. Setiap harinya. Dan saya tersiksa karenanya.

Tidak pernah terpintas sedikit pun ini akan datang dari dia. Orang yang pernah bilang akan selalu ada, seseorang yang berjanji banyak untuk membuat keadaan menjadi lebih baik lagi.

Saya lebih dari sekadar marah.

Saya tidak hanya terluka.

Perih ini pun lebih dari sekadar kecewa.

Saya hancur. Benar-benar hancur.

Kondisi ini membuat saya merasa tidak berharga.

Rasa-rasanya saya tidak kuat lagi untuk menjalani ini semua.

Saya menyerah.

Benar-benar menyerah.

Saya kalah lagi.

Tidak ada lagi yang tersisa selain perih dan luka ini.

Saya harus pergi dan tidak ada lagi ruang untuk menoleh ke belakang.

Tidak akan pernah ada tempat untuk orang seperti saya di hidupnya.

Ya, selamat untuk kemenangannya!

Prolog ini entah keberapa kalinya telah ditulis. Tapi, perasaan saat melepaskan, masih sesakit dulu.

Saya pun menatap kosong ke arah bangku yang hening tak bertuan.

Tempat yang seharusnya ada dirinya, yang bercerita tentang ketidak masuk akalan ini.

Tapi tidak ada siapa pun di sana.

Mungkin memang seharusnya ini berakhir, dan saya kemudian berlari, secepat yang saya bisa, tanpa pernah menoleh ke belakang lagi.




No comments:

Post a Comment